Loading...
Tampilkan postingan dengan label Kelana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelana. Tampilkan semua postingan

Sebelum Yogya Berhenti Nyaman

Maret 16, 2017 Add Comment

Malioboro dengan segala sisi uniknya seperti magnet yang menarik wisatawan dari penjuru Nusantara untuk menapakinya. Tak kurang dari puluhan lagi tercipta dari sebuah jalan yang tak terlalu panjang ini. Mulai dari lagu renyah khas Doel Sumbang sampai dengan langgam campursari ala Didi Kempot. Doel Sumbang, penyanyi kelahiran Bandung menawarkan irama ceria dalam lagunya, Malioboro, berduet dengan Nini Carlina.




Sementara Didi Kempot, mengabadikan kisah di Malioboro lewat tembang, Bangjo Malioboro, sebuah tembang yang sempat memenuhi request radio-radio di seputaran Yogya, Jateng dan sekitarnya. Selain itu sederetan musisi juga berkarya terinspirasi oleh Malioboro. Ini sebagian lirik tembang Mas Didi Kempot,

Lampu bangjo ing prapatan Malioboro
Nganti wengi aku dewekan nok kono
Lalu lintas pating sliwer maniko warno
Do rak ngerti rasane ati ing dodo

Maliboro seksono lelakonku
Nganti saki tresnaku ro sliramu
Tansah tak siram tetesing eluhku
Nganti suk kapan sliramu eling aku....

Hanya saja saya masih bingung dengan maksud Mas Didi Kempot dengan bangjo (traffic light) di perempatan Malioboro. Mungkinkah yang dia maksud adalah titik nol kilometer alias perempatan kantor pos? Entahlah.

Dan.... yang pengen saya bahas sejatinya bukan tentang Malioboro, melainkan jalan lain menuju Malioboro. Sejak beberapa bulan terakhir kita tidak bisa sembarangan parkir kendaraan bermotor di Malioboro. Trotoar difungsikan semaksimal mungkin untuk para pejalan kaki. Langkah yang menurut saya tepat. Bahkan konon para karyawan di seputaran Malioboro pun mesti cari alternatif tempat parkir lain, di antaranya dengan sewa halaman rumah di kampung seputaran Malioboro. Tarifnya sekira 50 ribuan untuk satu bulan.

Untuk Anda yang bersepeda motor bisa diparkir di area parkir Abu Bakar Ali (ujung utara Malioboro, timur Stasiun Tugu), parkir selatan Pasar Beringharjo, atau di timur Taman Pintar. Sedangkan mobil bisa di Selatan Pasar. Nah yang jadi soal adalah Bus Pariwisata, jika beruntung maka bisa diparkir di dekat Bank Indonesia. Hanya saja lahan parkir di sini terbatas. Maka biasanya Bis diarahkan ke taman parkir Ngabean yang jauhnya sekira 1 km dari Malioboro.

Bisa Anda bayangkan para wisatawan harus berjalan sekira satu kilometer dari lokasi parkir? Penderitaan mereka belum usai, karena trotoar yang harus mereka lalui bukan trotoar biasa, melainkan trotoar serbaguna. Sebagian menjadi lahan parkir, sebagian menjadi emperan toko, sebagian tertutup warung makan, sebagian lainnya menyempit akibat bangunan yang menjorok ke badan trotoar. Intinya tidak nyaman blas (sama sekali_red).

Belum lagi, jalan antara tempat parkir Ngabean dengan Malioboro yang dinamai jalan KH. Ahmad Dahlan, memiliki fungsi ganda sebagai lokasi parkir kendaraan di badan jalan. Tak tanggung-tanggung terkadang kanan-kiri jalan dipakai untuk parkir mobil. Maka semakin semrawutlah jalan KH. Ahmad Dahlan. Terkadang saya berpikir di mana letak kenyamanannya?

Untuk itu monggo kepada Pak Walikota yang baru saja terpilih, jika tidak mampu membuat nyaman seluruh trotoar di Yogya yang memang mengenaskan, paling tidak ada prioritas untuk membenahi trotoar  yang paling banyak dibutuhkan. Satu di antaranya adalah trotoar di sepanjang KH. Ahmad Dahlan (antara Pakir Ngabean – Malioboro).


Kita telah kehilangan gelar sebagai kota sepeda, meskipun di jalanan kita buatkan jalur sepeda dengan batas warna kuning. Selain sudah jarang pesepeda toh jalur itu pun sukses untuk ruang parkir mobil dan motor. Jalur alternatif dan ruang tunggu sepeda juga tidak membantu, karena kita telah kehilangan para pesepeda. Jangan sampai kita juga kehilangan julukan ‘ Yogyakarta berhati nyaman’. 

Bunga Amarilis dalam Serbuan Generasi Narsis

November 29, 2015 Add Comment




Kebun Bunga Amarilis di Patuk Gunung Kidul tetiba menjadi tersohor. Peran media sosial terbukti ampuh menjadi ajang promosi. Puspa Patuk demikian kemudian dikenal. Tidak ada yang istimewa dengan bungan amarilis. Apalagi jenis bunga ini banyak ditanam orang awam. Hanya saja jika jumlah ribuan dan ditanam di lahan luas, maka musim bermekarannya menjadi istimewa. Begitu juga yang terjadi di Patuk Gunung Kidul.

 
sumber: www.angkisland.com

Sayangnya bunga yang hanya bemekaran di musim penghujan itu tak berusia panjang. Semestinya bisa bertahan satu sampai dengan dua pekan dalam kondisi normal. Namun, injakan kaki kaum narsis telah mempercepat ajalnya. Bunga-bunga tak berdosa itu terinjak-injak dan sengaja diinjak demi memuaskan kaum narsis untuk berselfie ria. Lalu mengupload ke media sosial dengan bangga. “Lihatlah aku!”

Kondisi ini hampir serupa dengan maraknya pendakian gunung di seantero jawa. Mereka yang semula dan bahkan tak tertarik sedikitpun dengan pendakian mendadak turut serupa pecinta alam yang sedang menikmati keagungan Tuhan. Tapi dasarnya narsis, sehingga yang mereka ambil gambar dan foto-foto personal dengan meninggalkan persoalan lingkungan. Sampah mereka buang sembarangan, bara api ditinggal begitu saja sehingga memicu kebakaran hutan.

Kisah para pendaki dadakan dan tragisnya nasib bunga amarilis menjadi cermin. Belum dewasanya kita dalam menikmati alam sebagai salah satu tanda keagungan Tuhan.

Mengarus Bersama Hujan di Serayu

November 20, 2015 Add Comment




Sabtu, di awal November. Selepas subuh, bergegas meninggalkan rumah. Bersama kawan-kawan menuju Banjarnegara. Tepatnya di Kecamatan Sigaluh. Sungai Serayu, nama sungai yang tidak asing lagi, mengingatkan sebuah instansi di Kementerian Pekerjaan Umum yang menangani Sungai Serayu, Progo dan Opak. Lepas dari itu, ketenaran rafting di alur Serayu sempat saya baca lewat sebuah media massa. Bertahun silam. Tahunnya, saya lupa.

Kami berangkat menggunakan bis lewat jalur tengah. Magelang – Purworejo – Wonosobo – Banjarnegara. Melewati barisan bukit yang nyaris tanpa putus. Jalanan berkelok dengan hiasan tebing dan jurang. Cukup menguras ‘ketahahan’ bagi mereka yang terbiasa mabuk perjalanan. Sekira perjalanan 3-4 jam.











Sampai di lokasi, ternyata semua barang harus ditinggalkan di Bis, karena kendaraan tak bisa masuk ke lokasi. Kecuali motor atau mobil pribadi. Bis hanya di parkir di pinggir jalan. Sehingga sangat merepotkan bila harus berganti pakaian. Tak cukup sampai di situ, HP, Kamera dan segala perlengkapan yang tidak anti air diminta untuk ditanggalkan. Terbayang, betapa sedihnya mereka yang biasa berselfi ria. Kamera Canon SX160IS saya pun akhirnya masuk tas. Tak berkutik. Untunglah beberapa kawan membawa mobil dan kamera mereka bisa disimpan di mobil. Sedang bis  rombongan akan menanti di akhir alur rafting.

Dari parkiran bis, berjalan kaki sekira 100 meter menuju star poin, disambut dengan minuman dan makanan khas Yogya (alias bawa sendiri). Sebagian berfoto ria. Sebagian memilih menikmati arus sungai dan melihat langit yang mulai dipenuhi awan. Sambil menunggu perahu karet yang sedang dalam perjalanan karena baru saja digunakan rombongan sebelumnya. Kami diajak untuk melakukan pemanasan dan diberi arahan untuk melakukan pertolongan diri dan menjaga keselamatan kawan lainnya.

Jam hampir menunjuk pukul 12.00, tapi matahari keburu tertutup mendung. Benar saja, sesaat setelah turun ke sungai, hujan mulai mengguyur Serayu. Perjalanan sekitar 2 jam dengan menempuh jarak sekira 16 Km. Hari itu kami benar-benar bermain air, bukan saja air sungai yang memercik, tapi juga hasil tebasan kawan dari perahu lainnya, ditambah hujan yang terus mengguyur sepanjang perjalanan. Sampai-sampai tim rescue berjaga di beberapa ‘tempuran’ pertemuan di antara dua sungai, karena derasnya arus yang menuju Serayu.

Setengah perjalanan, hujan masih bertahan dengan lebatnya. Kami pun menikmati hangatnya mendoan dan manisnya kelapa muda dalam guyuran hujan. Ada yang berteduh di bibir tebin, ada pula yang tetap bertahan dalam hujan. Tak lama kami beristirahat, perjalanan pun lekas dilanjutkan. Kali ini jeramnya tidak begitu menggila seperti rute pertama. Hanya saja, beberapa tempuran sungai memaksa kami untuk lebih berhati-hati agar tidak terbalik.

Sekira pukul dua, perjalanan berakhir. Namun hujan belum juga reda. Setelah mandi dan shalat dhuhur. Kami pun menikmati makan siang, dalam gerimis.

Meriahnya Outbond di Dolan Desa Kalibawang Kulon Progo

September 29, 2015 Add Comment



Selasa (29/9/2015) kemarin, berkesempatan untuk mencicipi ber-outbond ria di Dolan Deso Boro. Sebelumnya pernah ke sana, tapi cuma liat saja. Nah, pas selasa itu bisa ikut basah-basahan. Seru pokonya.

Dolan Deso, merupakan destinasi baru Wisata di bagian utara Kulon Progo. Untuk mencapai lokasi ini, bisa ditempuh dari beberapa jalur. Tugu Yogya ke barat terus, jati kencana, perempatan ring road Demak Ijo – Pasar Godean – Perempatan Gedongan – Jembatan Kebonagung 1 (Sungai Progo) – Perempatan Kenteng (Nanggulan). Nah di Bangjo Kenteng ini silakan ambil arah ke kanan (utara) sampai Anda menemukan BangJo Dekso. Lurus ke utaran sekira 500 menter, ada pertigaan arah Boro, silakan belok kiri sekira 500 meter dan Anda akan menemukan bangunan Joglo di tengah sawah. Atau Anda, akan menemuka selokan, nah ikuti saja selokan itu.

Jika dari arah Terminal Jombor ke barat, ikuti Jalan Kebonagung sampai menemuka Kantor Camat Minggir, akan ada pertigaan dekat Lapangan. Ambil arah kanan (barat) sampai ada Jembatan Kebonagung 2 – Perempatan Dekso, kemudian ambil arah kanan (utara).

Eh, sebenarnya saya mau meliput kegiatan outbond atau malah promosi. Tapi agar kemeriahan itu bisa terlihat hadir, silakan simak momen-momen yang sempat terekam lensa.

















Lokasi Dolan Deso : Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo DIY
Telepon : 087 838 999 399
Website: www.dolandeso.com