Loading...
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

September to Remember

September 07, 2015 Add Comment
untuk: El Jasmine



Apa yang paling kau ingat tentang September?
Adalah runtuhnya dua gedung kokoh WTC
Setelah dihantam pemiliknya sendiri dengan pesawat
Kala itu hari pertama bekerja sebagai perantauan
Di Bekasi, kota yang datang dan pergi tanpa permisi

Apa yang paling kau ingat tentang September?
Tentang hujan, ketika kembang-kembang durian
Satu pe satu mulai bermekaran, kuncupnya indah sekali
Serupa rangkaian kelopak yang bertandan-tandan
Kala itu ibu sering berpesan, selalulah berjalan dalam titian

Apa yang paling kau ingat tentang September?
Tanyamu kala itu, saat langit mulai redup
Dan semilir angin mengalun sayup
Ada tatap mata yang seperti ingin
Mengarahkan alam pikiranku ke momen itu
Lewat perjanjian kokoh dua hati terjalin

Apa yang paling kau ingat tentang September?
Entahlah, tapi aku selalu ingat kamu
Tidak hanya di bulan September

Berguru Pada Hujan

Agustus 17, 2015 Add Comment


Bergurulah pada hujan
Rintiknya membasah
Bila berpadu sinar surya
Menjelma pelangi indah

Bergurulah pada hujan
Derasnya menghunjam
Serupa ribuan jarum menusuk dedaunan
Tapi ia tak menyisakan kehancuran

Bergurulah pada hujan
Berbulan kemarau kerontang
Rekahan sawah ladang
Dihapusnya dalam sekejap

Nduk....
Tapi tujuan akhir hujan bukanlah
Pelangi yang tergelar indah
Atau tanah yang coklat membasah
Melainkan datangnya berkah....
Semoga engkau pun demikian

.:“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41] : 39). :.

__ 1 Juli __ tepat ketika sudut kamar itu riuh dengan tangismu

Ibu dan Ilalang

Desember 21, 2014 Add Comment


Itukah engkau ibu
Merenungi kisah hujan semalam
Yang tak sempat mengairi
Rekahan kemarau sawah kita
Sementara ilalang kian tegak
Menantang badai
Paras sayu serta alunan do’amu
Mengeraskan kepalaku

Lupa janji bakti yang semestinya aku penuhi.

Menikmati Kabut di Suplawan

Desember 11, 2014 Add Comment





Hari beranjak siang ketika itu
Saat kaki mulai letih sebab jauhnya perjalanan
Di puncak sebuah bukit kami saksikan
Panorama indah nan menawan
Waduk sermo yang berkelpk di antara pegunungan
Tersaji sempurna dalam pandangan


Malam sebelumnya, saat hari mulai gelap
Kami serombongan baru saja tiba
Dalam satu wilayah yang asing dan sepi
Jalan menanjak dan naik turun
Bahkan kendaraan kami terpaksa parkir di sebuah SD
Untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki
Menyusuri setapak di antara tebing dan jurang
Nyaris gelap, dalam senyap
Hanya temaram lampu senter jadi pemandu

Langkah kaki terus berjalan
Puas menikmati eloknya waduk sermo
Kami bergerak ke bukit lain
Menuju gua Suplawan
Konon muka gua ini di Kabupaten Kulon Progo
Sedang ujungnya di Kabupaten Purwarejo
Di ujung gua kami tak menemukan jalan, hanya sebuah lubang


Saya jadi teringat ketika kecil
Bapak sering bercerita tentang petualangannya
Bersama kawan-kawan
Berjalan puluhan kilometer untuk sampai ke Suplawan
Sekarang aku bisa menikmati rupanya
Tak hanya gua yang menawan
Puncak Suplawan tak kalah eloknya
Di pucuk tebing kita bisa melihat hamparan panorama
Tersaji indah bak nirwana
Ditemani hembusan angin kencang
Serta kabut yang kuat menyaput
Suplawan memang menawan!